| home | ask me | archive | My Twitter |
dan disaat telah melewati masa SMA pun aku masih bertanya mau jadi apa
me: no one you know or like
Dalam mata tupai, garis perspektif berada jauh beberapa senti di bawah manusia. Seperti hampir seluruh dunia bergerak jatuh menuju titik nadir cahaya. Ia mencari serangga, kacang, buah-buahan yang bisa diberikannya untuk dirinya dan anak-anaknya. Hah, apakah itu? Sebuah mobil yang terlihat besar baru saja melintasi jalur penyebrangan. Beberapa senti hampir membuat sang Tupai menyatu dengan ban dan membawanya berosilasi menyentuh aspal. Tapi insting seekor binatang mampu membaca tanda bahaya di depannya. Gerak cepat antara kedua tangan dan kakinya, hendak membawanya ke sebuah perkampungan pembuangan sampah oleh manusia. Dimana pasokan makanan tersedia dengan gratis tanpa menggunakan mata uang tupai dunia. Hoaa, segala sesuatu adalah raksasa baginya. Perlu tolehan beberapa derajat ke atas untuk menyadari beberapa orang manusia dengan suatu alat yang memancarkan cahaya menyilaukan. Segera, dengan gaya aktor jackie chan melompat di setiap sisi dinding saluran pembuangan air, menghindari gelagat manusia penembak cahaya. Dalam benaknya, hanya perlu melindungi diri, mengikuti insting tajamnya, mengikuti arah makanan untuk dirinya dan keluarganya.




